Thursday, March 5, 2015

Post Terakhir

Ini adalah post terakhir. Bulan ini usia blog ini genap lima tahun. Banyak yang berubah dari caraku bertutur, bercerita, dan menulis. Sepertinya sudah saatnya aku meninggalkan fase ini. Sulit lepas dari weamercury. Percayalah. Weamercury sendiri sudah menjadi semacam identitas buatku. Tetapi, hidup itu selalu berkembang bukan? Hidup itu tentang menjadi lebih dewasa bukan? Mungkin aku memang belum dewasa, tetapi aku berusaha untuk berkembang dan pada akhirnya akan menjadi dewasa. Beberapa tulisan yang kuanggap layak, kubawa pindah. Tetapi aku tidak akan menghapus blog ini. Terlalu berharga, mungkin saja suatu saat nanti akan ku print semua post lalu kujadikan kliping. Bukan hal yang bodoh bukan? Meskipun nanti pasti aku akan tertawa melihatnya. Ah, yasudah terlalu banyak berbicara aku ini. Di bawah ini ada link blog ku yang baru, kunjungi saja, dan jangan sungkan untuk meninggalkan jejak komentar.

Tuan Permen Karet

Aku anggap kamu adalah sebungkus permen karet berisi lima. Aku ambil satu, lalu aku kunyah, kunyah, dan kunyah. Aku merasakan manis di lidahku. Terkadang, rasa asam menggelitik tepi lidahku. Lalu aku kunyah dan kunyah lagi permen karet ini. Ah, aku ingin membuat balon dengan permen karet ini. Aku kunyah dan kubentuk permen karet ini sedemikian rupa, kulapisi ujung lidahku dengan permen karet ini. Lalu, aku mulai meniup. Berat terasa pertama kali ku meniup, tak kunjung menggelembung permen karet ini. Lalu, semakin ringan dan mudah aku meniupnya setelah balon ini mulai terbentuk. Aku terus meniupnya, sampai aku tak tahu kapan balon ini akan pec......... *puffff* balon ini pecah. Wah usahaku meniup sia-sia sudah. Ah, permeb karet ini sudah hambar rasanya. Apalagi yang bisa kudapat dari permen karet ini. Lapisan gulanya saja sudah tak terasa. Semakin lama permen karet ini semakin keras. Wah, kubuang saja permen karet ini.

Lalu aku ambil permen karet lain dari bungkus itu. Aku kunyah dan kunyah. Tapi kali ini aku hanya kunyah dan kunyah. Lelah aku menghembuskan napas untuk membuat balon. Lagipula, balon itu pada akhirnya akan pecah.

Ah, tapi sepertinya akan lebih menarik jika aku membuat balon dari dua permen karet. Aku ingin membuat balon yang besaaaaar. Aku ambil satu lagi permen karet dari bungkus. Senang rasanya merasakan manis yang baru menutupi hambar permen karet sebelumnya. Kumulai mengunyah dan mengunyah dua permen karet dalam mulutku. Kuaduk dua permen karet dalam mulutku, aku bentuk, dan aku mulai lagi proses membuat balon. Lalu, aku mulai meniup. Ugh, ternyata dua permen karet berat untuk dibuat menjadi balon. Aku berikan tenaga lebih pada tiupanku. Akhirnya gelembung mulai muncul! Akan kubuat balon yang besar! Aku meniup, meniup, dan meniup! Aku tak peduli bila akhirnya akan meletus dan pecah menutupi mukaku pun aku tak peduli. Aku menikmati membuat balon. Aku menikmati rasa manis saat mengunyah permen karet ini. Dan yak, akhirnya pecah juga balon permen karetku yang besar. Ah, sudah tidak menarik lagi. Hambar sudah permen karet kedua dan ketiga. Kubuang saja lagi permen karet ini.

Duh, masih ada dua permen karet lagi. Aku ingin menyimpannya saja. Lagi pula rahangku lelah mengunyah. Nanti saja aku mengonsumsinya.

*Aku beraktivitas, lalu aku bosan, lalu aku jenuh, lalu aku teringat! Ah, aku masih punya permen karet.*

Aku ambil permen karet keempatku. Wah, rasanya lega aku masih punya permen karet ini. Aku mau beraktivitas sambil mengunyah permen karet ini ah. Aku beraktivitas sampai lupa aku masih terus mengunyah permen karet. Ah permen karet ini ternyata sangat cepat terasa hambar kalau aku mengunyahnya sambil beraktivitas. Ugh, sampai enek aku dibuatnya. Tapi, mengunyah permen karet membuatku lebih berkonsentrasi.

Ah, aku sudah tak ingin mengunyah permen karet. Rahangku sudah lelah, lidahku sudah cukup merasakan manis yang semu. Kuberikan saja permen karet terakhir ini untuk orang lain. Mungkin orang lain itu lebih membutuhkanmu dibanding aku. Lagi pula, hambarmu di akhir sudah cukup kurasakan. Setelah ini, aku akan menyikat gigi, supaya lapisan gulamu yang menempel di gigiku segera hilang dan tidak merusak. Selamat tinggal permen karet terakhir.

Kamu mengerti kenapa kamu adalah permen karet? Karena kamu manis di awal lalu selalu berakhir hambar. Ketika aku sudah merasakan hambar, aku menjauh. Namun, aku tergoda untuk kembali lagi merasakan manis. Ya, lalu aku mengunyah permen karet lagi, lalu aku kembali lagi ke kamu. Aku berusaha membuat semuanya terlihat lebih menarik. Pertama aku hanya mencoba biasa, hanya menggunakan satu permen karet. Toh, ternyata pecah pada akhirnya. Usahaku membuat semuanya menarik sia-sia. Aku berpikir mungkin usahaku masih kurang. Lalu, aku tambah lagi satu permen karet. Dari awal aku sudah tau, pada akhirnya semua usahaku akan sia-sia. Tetapi aku tetap melakukannya kan? Ternyata usahaku yang lebih besar, dengan permen karet yang lebih banyak tidak membuat semuanya menjadi lebih menarik dan lebih baik. Pecah pada akhirnya. Hambar pada akhirnya. Aku memutuskan untuk melupakanmu. Tetapi ternyata aku kembali lagi mengunyah permen karet, aku bersyukur masih bisa kembali padamu. Namun, kali ini aku tidak terlalu memusingkanmu, aku lebih sibuk beraktivitas. Sampai-sampai aku lupa, aku masih mengunyah permen karet. Aku melupakanmu, yang sekali lagi pada akhirnya terasa hambar. Sudahlah, aku lelah mengunyah, aku lelah denganmu. Mungkin lebih baik kamu, permen karet, buat orang lain saja. Mungkin kamu lebih senang berguna buat orang lain, dibanding aku. Aku juga tak ingin gigiku lebih banyak lagi terkontaminasi oleh gulamu, aku tak ingin hidupku lebih banyak terdistract olehmu. Aku menyikat gigi, aku membuat hidupku lebih berarti dengan orang-orang disekitarku, dimana lebih bermanfaat dibandingmu. Menyikat gigi berarti menghapus semua harapan, janji, dan ucapanmu. Kuharap kamu bermanfaat buat orang lain. Selamat tinggal, Tuan Permen Karet.

Monday, March 2, 2015

Pulang ke Rumah

Ini percakapan tentang dua orang teman yang bertemu setelah sekian tahun. Sebut saja mereka Kara dan Nara.

Kara, "Pernah ngga sih lo nyaman sama orang sampai rasanya gamau kehilangan?"

Nara, "Pernah lah. Sering kali kalau kayak gitu sih."

Kara, "Sohib lo?"

Nara, "Iya juga. Ga cuma temen. Gue nyaman sama seseorang sebagai tempat cerita, nyaman sama seseorang sebagai kakak, banyak macam nyamannya."

Kara, "Gue lagi ngerasain. Gue nyaman sama orang sebagai sahabat gue, gue gamau kehilangan dia. Rasanya kalau punya cerita ngga cerita ke dia, belom afdol. Padahal temen cerita gue ya bukan cuma dia. Sekarang gue ditinggal, rasanya sedih sekali."

Nara, "Iya itu karena kita nganggep dia itu punya kita, padahal bukan. Padahal dia cuma sahabat kita. Tapi lo gamau kehilangan dia karena lo anggep dia punya lo."

Kara, "Iya, gue egois emang. Ini tuh semacam territory. Dia punya gue dan gue gamau dia hilang."

Nara, "Sebenarnya kalau sudah seperti itu, kita cuma pengen jelas kan? Cuma butuh pernyataan, 'iya gue bakal selalu ada buat lo' sebatas kalimat itu saja sebenarnya udah bikin kita lega kan?"

Kara, "Iya sebatas itu udah bikin lega, gue cuma pengen kita ya tetep kita. Sobatan. Sahabatan. Sohiban. Tapi gimana caranya biar bisa tetep kayak gitu, Nar?"

Nara, "Iya lo klarifikasi ke dia lo anggep dia apa. Lo mau nya gimana."

Kara, "Gue anggep dia sebagai sahabat yang bisa bikin gue nyaman, Nar. Bukan sebagai orang yang bakal gue jadiin pacar. Jauh dari itu. Gue udah pernah bilang. Toh sepertinya dia tetap menjauh."

Nara, "Gue ngerti."

Kara, "Lo tau kan gimana sedihnya ketika lo pernah dekat, apa-apa cerita ke dia, main kesana-sini bareng dia, lalu dia sekarang kayak buang lo."

Nara, "Iya, gue ngerti banget. Dan lo takut jadi semakin annoying dalam hidup dia. Tetapi di sisi lain lo pengen banget ada dia di hidup lo. Ya kan?"

Kara, "Iya, sekarang gue ngerasa cuma kayak sampah yang ganggu hidup dia. Gue ngerasa kayak gue sudah terlalu annoying buat dia. Gue cuma pengen dia tetep jadi sahabat gue. Tapi sampai suatu saat nanti dia kembali lagi, gue ga bakal menjauh. Gue ga pengen awkward. Gue tipe orang kalau udah sayang sama orang, udah percaya sama orang, ya itu berlaku sampai kapan pun. Ketika gue ditinggal, gue berusaha untuk mempertahankan. Kalau pun dia akhirnya pergi, ketika dia kembali, ya gue akan tetap menerima. Karena, ya itu tadi gue ga mau kehilangan orang yang ada dalam territory gue. Setinggi itu gue menghargai seseorang yang gue percaya."

Nara, "Ya tapi, pemikiran orang beda-beda. Orang ngeliat bagaimana suatu hubungan juga beda-beda. Lo nganggep dia sahabat lo, tapi orang lain nganggepnya beda mungkin lebih. Tapi kan yang tau aslinya cuma lo kan. Ya gue sih percaya sama lo kalau emang cuma sahabatan. Karena gue juga ngerasain, gimana rasanya gamau kehilangan seseorang yang bikin gue nyaman dan dia bukan pacar gue."

Kara, "Iya, rasanya setiap gue akhirnya cerita ke dia, gue lega. Tapi cerita tatap muka dan lewat sosial media memang berbeda. Gue mengutuk sosial media. Gue mengutuk fasilitas chat di handphone. Tapi gue munafik karena gue masih pake itu semua. Gue rasa lebih baik gue ketemu dia langsung, lihat ekspresi, gerak tubuh, bagaimana dia merespon, bagaimana dia tertawa. Berkomunikasi dengannya rasanya seperti pulang ke rumah."

Lalu percakapan itu terhenti, karena mereka tahu percakapan itu takkan pernah memiliki akhir.

Thursday, February 26, 2015

Sahabat Tersesat

Ada satu hal yang kusukai dari setiap perjalanan. Perjalanan selalu membuatku memiliki waktu untuk berpikir dan merenung. Bukan, aku bukan seorang pemikir dan juga perenung. Aku hanya mencoba memanfaatkan waktu yang ada.

"Aku mencoba untuk tidur, tetapi bagaimana bisa tidur dengan tenang apabila aku saja masih terjebak dalam labirin pemikiran dalam otak yang mungkin belum memiliki jalan keluar. Aku bisa saja terus berbelok ke kiri di setiap persimpangan dan kembali apabila kutemui kebuntuan. Godaan selalu ada, bagaimana bila ternyata ketika aku memilih berbelok ke kiri, di belokan kanan aku akan menemukan sesuatu yang luar biasa, yang tak bisa kutemukan ketika aku berbelok kiri? Seseorang pernah bilang, hidup itu pilihan. Bullshit, apa lah pilihan itu jika kita tidak memilih? Hidup sebenarnya adalah memilih pilihan yang ada di depan kita. Pilihan jika tidak kita pilih ya hanya sekedar pilihan, tak berarti apa-apa. Sementara, pilihan yang kita pilih punya risiko dan konsekuensi yang pada akhirnya harus kita terima.

Ya, menulis ini semua sangat mudah. Aku hanya tinggal mengetik apa yang terlintas di otakku. Tapi kamu tahu, aku saja berusaha mati-matian untuk menjalani konsekuensi dari pilihan yang telah aku pilih. Tidak, aku tidak menyesal. Tetapi bertahan dengan apa yang kupilih ternyata tidak semudah seperti yang kupikirkan di awal ketika aku sedang dalam proses memilih itu sendiri.

Ketika aku akhirnya memutuskan untuk melepas orang yang aku sayang. Ketika aku memutuskan untuk menarik kepercayaanku dari sesesorang yang pernah sangat kupercaya. Ketika aku berusaha mengontrol rasa rindu, percayalah itu sangat sulit. Pada awalnya, kukira semuanya akan berjalan dengan lancar dan mudah. Aku masih punya orang lain yang aku sayang, aku masih punya orang lain yang kupercaya, dan aku masih punya orang lain untuk berkeluh-kesah. Tetap saja, rasanya berbeda antar tiap orang lain itu. Bagaimana menahan rasa untuk menyapamu, mengajakmu berjumpa, percayalah itu sulit. Apalagi dengan banyaknya memori yang pernah tercipta. Kamu tahu, kehilangan sahabat itu jauh lebih menyakitkan daripada ketika kita tahu bahwa cinta pertama kita ternyata menyayangi orang lain.

Percayalah, aku tak akan pernah menyerah. Kau akan tetap menjadi sahabatku. Entah apakah aku seorang sahabat bagimu atau tidak. Aku tidak peduli lagi. Aku hanya berusaha menjadi sahabat yang baik. Aku hanya berusaha memaklumi sifat kekanakanmu. Ingat, di saat kamu membutuhkan seseorang. Aku akan selalu ada. Maaf, jika kau kira ku berubah. Mungkin bukan hanya aku yang berubah tapi kita. Namun, bukankah itu inti dari hidup? Kita berusaha untuk menjadi lebih baik yang artinya menuntut kita untuk berubah. Entah apakah itu baik atau buruk di mata orang lain.

Aku sayang kamu, sahabatku."

Surat seorang gadis kepada sahabatnya yang sedang menghilang dan mungkin tersesat dalam labirin pemikiran.
Terinspirasi dari Blue Sky Collapse oleh Adhitia Sofyan.

Saturday, February 21, 2015

Semangat, Planet!

Ini cerita tentang seseorang yang sedang berjuang. Sebut saja dia, Planet. Ini cerita tentang seorang Planet yang sedang berjuang. Berjuang untuk apa, biar planet saja yang tahu. Mungkin planet hanya ingin kalian tahu, bagaimana perjuangan yang sebenarnya itu. Tapi, sekali lagi itu pun menurut planet.

Setiap hari Planet melakukan kegiatan yang konon mampu membantunya mencapai apa yang dia perjuangkan. Setiap hari melakukan hal yang sama. Setiap hari datang ke suatu tempat yang sama, bertemu dengan teman-temannya yang sedang berjuang pula. Lalu suatu ketika, Planet bertemu dengan teman lamanya yang sudah mendapatkan apa yang diinginkannya, hal yang sama dengan apa yang diinginkan Planet. Planet hanya bisa berbicara dalam hati betapa dia ingin sekali seperti teman lamanya itu. Dengan perjuangan yang sudah berbeda dengan apa yang dilakukan Planet.

Lalu ada kalanya Planet berjuang, melakukan hal yang sama setiap hari, tetapi Planet lupa apa yang sedang dia perjuangkan. Semuanya terasa seperti rutinitas yang datar, tidak terasa seperti perjuangan. Sepertinya Planet sedang mengalami hilang motivasi. Hilang visi tentang apa yang ingin dia capai. Lalu Planet mulai enggan melakukan aktivitas itu.

Terkadang Planet tidak semangat menjalani perjuangannya. Rasa lelah yang dirasakan Planet terkadang sudah tak terbendung lagi. Planet ingin berkeluh kesah dengan teman-teman yang ditemuinya setiap hari, yang memiliki perjuangan yang sama. Tapi apa daya, mereka pun memiliki kondisi yang sangat serupa dengan Planet. Planet ingin berkeluh kesah dengan orang-orang yang dipercayanya. Tapi sepertinya Planet terlalu mengganggu hidup mereka dengan keluhan-keluhan yang tak pernah henti. Sampai-sampai mereka enggan menyemangati Planet lagi. Terkadang kondisi ini semakin membuat Planet terpuruk dalam perjuangannya. Enggan latihan, enggan beraktivitas. Planet hanya ingin orang-orang yang dipercayanya kembali, kembali menyemangatinya. Tetapi sepertinya, semua itu sulit.

Planet tersadar. Dia tidak boleh bergantung pada orang lain. Hanya Planet sendiri yang bisa membangun motivasi dalam perjuangannya. Hanya Planet yang bisa mengukur rasa lelah yang dialaminya. Hanya Planet yang bisa terus menyemangati dirinya sendiri, sehingga suatu saat bisa mencapai apa yang dia perjuangkan. Karena apa? Karena setiap orang sedang berjuang dalam hidupnya sendiri-sendiri. Karena Planet sadar... Bersandar pada orang lain hanya membawanya kepada kenyamanan semu yang bisa hilang dengan seketika. Planet harus semangat. Planet harus bisa bertahan dalam perjuangan. Planet harus sadar kalau waktu mempersiapkan perjuangannya sangatlah singkat. Planet harus tau, bahwa dia bisa menjadi individu yang kuat. Planet harus tau, bahwa dia tidak boleh mengharapkan semangat dari orang lain.

Friday, February 20, 2015

Rasa Rindu

Ini tentang seorang gadis yang sedang merindu. Gadis ini sepertinya telah mengelompokkan rindu menjadi dua jenis secara garis besar. Entahlah, sepertinya rindu pada beberapa orang terasa berbeda. Pertama, rasa rindu yang dapat dengan mudah gadis ini utarakan pada orang yang dirindukannya. Rasa rindu yang tidak terasa canggung ketika disampaikan. Rasa rindu yang kemungkinan besar akan dibalas dengan rasa rindu yang sama. Rasa rindu yang melegakan ketika disampaikan. Rasa rindu yang mungkin impas ketika berjumpa.

Tapi, rasa rindu yang kedua ini... Rasanya sulit untuk diutarakan. Ada efek yang mungkin terjadi jika disampaikan pada orang yang gadis ini rindukan. Rasa rindu yang rasanya lebih baik disimpan daripada diutarakan, karena bisa berujung kecewa. Rasa rindu yang belum tentu dibalas dengan rasa rindu yang sama. Rasa rindu yang membuat canggung antara gadis ini dengan orang yang dirindukannya jika diutarakan. Rasa rindu yang menyesakkan dada, ingin sekali menyampaikan ingin berjumpa, tetapi tidak yakin apakah yang dirindukannya ingin berjumpa dengannya. Rasa rindu yang menyakitkan, karena gadis ini hanya merindu sendiri. Rasa rindu yang membuat gadis ini meneteskan air mata tiap malam ketika gadis ini teringat dan merindukannya. Rasa rindu gadis ini ingin berjumpa dan berkonversasi dengannya. Rasa rindu tentang apa yang pernah terjadi dan mungkin tidak akan pernah terulang lagi, yang meskipun terulang tak akan pernah sama. Rasa rindu yang membuat gadis ini tertidur dengan mata basah, dan terbangun dengan perasaan gamang dan hampa. Rasa rindu yang tidak tersampaikan. Rasa rindu yang bertepuk sebelah tangan. Rasa rindu yang... ah sudahlah. Gadis ini lelah.

Wednesday, February 18, 2015

Si Burung

Ini cerita tentang seekor burung dalam sangkar. Sangkarnya diletakkan di tempat yang strategis, si burung dapat melihat berbagai pemandangan dengan sudut pandang yang luas. Si burung pun senang mengamati orang yang setiap hari berlalu-lalang di bawahnya, dengan segala tingkah laku mereka yang lucu bagi si burung. Si burung juga senang melihat birunya langit, maupun pelangi elok yang muncul setelah hujan reda.

Si burung juga senang karena setiap hari sang empunya selalu mengajaknya berbicara, mengenai dunia manusia yang mungkin takkan pernah dimengertinya. Sang empunya bercerita tentang birunya laut, tentang cakrawala yang membentang, tentang matahari terbenam yang membentuk senja sempurna, tentang angin yang bertiup menghempas tubuh, tentang gunung yang selalu berdiri tegak dan tegar. Sejauh ini, si burung hanya turut bahagia bila sang empunya bahagia.

Suatu ketika, sang empunya membawa seekor burung lagi untuk dipasangkan dengan si burung. Mereka dijadikan satu sangkar. Tetapi si burung baru terlihat tidak bersahabat, dan si burung pun sedih karenanya. Bertanyalah si burung, "kenapa wajahmu terlalu terlihat murung seperti itu?" Dijawab dengan ketus oleh si burung baru, "kamu yang aneh. Kenapa kamu bisa selalu tersenyum dengan kondisi seperti ini? Kenapa kamu masih bisa terlihat bahagia setiap hari?" Si burung terdiam dan berpikir lalu menjawab, "karena sang empunya selalu berbagi cerita yang menyenangkan denganku. Lagipula, pemandangan dari sini juga indah. Aku bahagia dengan semua ini." Si burung baru tertawa dengan sangat kerasa dan sinis, "semua yang kamu lihat disini adalah semu! Apa yang kamu bisa nikmati dari melihat tapi tak bisa merasakan? Kamu sudah terlalu lama terjebak dalam sangkar ini! Kamu seharusnya merasakan bagaimana merasakan langsung apa yang diceritakan oleh sang empunya. Bagaimana angin berhempus menerpa sayapmu ketika kau terbang! Atau jangan-jangan kau tak mampu untuk terbang? Atau sayapmu sudah terlampau lama tak digunakan dan terlalu kaku untuk dikepakkan?" Si burung hanya terdiam dan terlihat sangat sedih mendengar pernyataan yang diutarakan oleh si burung baru. "Lalu aku harus bagaimana... Aku ingin merasakan dunia yang pernah kamu rasakan itu. Aku ingin mengepakkan sayapku," ujar si burung dengan nada penuh harap. Si burung baru mengerti apa yang terjadi dengan si burung. Ikut terdiam, berpikir, kemudian berkata, "tenang, suatu saat aku akan membawamu pergi. Lepas dari sangkar yang membelenggu kita ini. Bersabarlah."

*terinspirasi oleh lagu Dialog Dini Hari yang berjudul Aku dan Burung

Sunday, February 15, 2015

Siluet Senja

Kala senja tiba, kutahu kegelapan kan menyusul. Senja itu indah, seindah gelak tawamu mengundangku untuk tersenyum. Ketika warna kontras berpadu menyusun keindahan yang tak kekal. Siluet manusia-manusia berjajar menghadap surya tenggelam, surya tak lagi silau. Lalu aku terpaku melihat siluetmu. Aku terdiam sampai akhirnya gelap datang menutupi siluetmu. 

Kemana kau? Apakah kau akan kembali? Apakah aku hilang? Apakah kau yang akan menemukanku? Atau aku yang ternyata menemukanmu tetapi kau masih tak ingin ditemukan? Aku bingung.

Seketika jalan setapak muncul. Aku mulai berjalan, aku ingin tahu adakah kau di ujung jalan? Atau ini hanya sekadar harapku? Atau... ternyata bukan kau di sana. Aku hanya akan terus berjalan dan berjalan. Sampai lelah dan haus tak mengusikku. Aku hanya akan terus berjalan...

Thursday, January 1, 2015

Nyaman

Ini cerita tentang seorang gadis yang sedang jatuh nyaman. Ini mungkin aku tapi mungkin juga bukan aku. Ini universal. Gadis ini hanya mencoba berusaha untuk menyampaikan apa yang dirasakannya, yang mungkin tak akan pernah jelas dan tak akan pernah engkau mengerti.

"Aku takut. Jujur aku takut kehilangan. Terima kasih selama ini rela mendengarkan cerita-ceritaku yang sepertinya tak layak untuk didengar. Terima kasih untuk semangat yang kau berikan selama ini. Terima kasih atas usahamu untuk tidak mengecewakanku. Semakin kamu berikan, rasanya semakin takut aku kehilangan.
Kamu tau, rasa nyaman itu bisa menjerumuskan. Baru kali ini aku mengalaminya. Mungkin orang melihatku lalu berkomentar, “Wah, kamu sedang jatuh cinta, ya?” Aku sendiri bingung, tapi sepertinya tidak. Aku tidak sedang jatuh cinta. Aku jatuh nyaman. Kamu membuatku merasa nyaman dengan cara yang tidak masuk akal. Kamu tak memujiku, kamu bahkan tidak pernah mengeluarkan kata-kata manis. Tapi kamu tau cara yang tepat untuk membuatku tersenyum.
Tapi sepertinya memang semuanya akan terlihat menjemukan. Dengan dunia kita yang berbeda. Dengan kesibukanku yang tidak sebanding dengan kesibukanmu. Dengan lingkungan pergaulanku yang berbeda denganmu. Rasa takut hilang itu semakin meraksasa. Mungkin dengan kesibukanmu, dengan kegiatanmu, waktumu tak tersisa lagi untuk sekadar mendengarkan ceritaku. Padahal aku hanya ingin didengarkan. Kamu tau seberapa beratnya untuk tidak menyapamu, untuk tidak mencarimu saat kamu menghilang tenggelam dengan kegiatanmu?
Teman-temanku bilang karena kamu orangnya memang seperti itu. Ya, aku mengerti. Memang selama ini aku bercerita seakan kamu yang salah. Tapi tidak, kamu tidak salah. Karena kamu tidak pernah memberikan harapan. Aku yang salah terjerumus dalam rasa nyaman itu, sulit rasanya untuk keluar dari rasa nyaman itu. Seberapa keras aku berusaha terlihat berarti, semakin aku terlihat tak berarti.
Andai aku bisa memutar waktu. Terdengar klise memang. Tetapi aku ingin kembali ke waktu dimana aku akan memutuskan untuk tidak sedalam ini tenggelam rasa nyaman. Karena saat ini aku mencoba untuk kembali seperti sebelumnya, tetapi aku rasa kamu sudah menyadarinya.
Aku lelah, aku sudah mengerti rasa nyaman ini tidak akan membawaku kemana-mana. Cepat atau lambat aku akan kehilanganmu dan rasanya nyaman itu. Tak apa. Mungkin memang sebaiknya aku menjauh. Mungkin lebih baik aku pergi dari keseharianmu. Sepertinya kamu lelah dan jenuh dengan keberadaanku. Sepertinya kamu sudah terpaksa mendengar ceritaku. Terima kasih untuk waktumu selama ini. Tapi satu yang pasti, aku kecewa. Sulit untuk percaya, hingga menceritakan sebegitu banyak cerita kepada seseorang. Tapi orang yang aku percaya, kamu, seperti tidak merasa kepercayaanku berarti. Tak apa. Kamu tak pernah salah. Mungkin memang aku yang bodoh terjebak rasa nyaman semu yang bahkan mungkin aku ciptakan sendiri. Sampai jumpa."

Pada akhirnya, gadis ini merasa bodoh. Namun, gadis ini tetap melanjutkan apa yang membuatnya merasakan kenyamanan semu itu. Meskipun ia harus mengorbankan perasaannya.

Thursday, October 30, 2014

Rasanya lelah dan sia-sia memberikan kepercayaan pada orang yang akhirnya malah menyia-nyiakan kepercayaan yang udah gue kasih. Rasanya ingin menarik semua cerita yang pernah gue ceritakan ke orang-orang itu. Mereka ga layak buat denger cerita gue, kalau pada akhirnya mereka anggap remeh semua cerita-cerita gue. Buat apa...

Egois memang, tapi ingin rasanya sesekali seseorang mengerti perasaan gue tanpa gue harus bercerita lebih dulu. Andai saja gue orang yang bisa merasa bodo amat terhadap semua yang terjadi. Menjadi sensitif dan sentimentil itu melelahkan. Apalagi ketika harus menuangkan air mata setiap saat gue merasa semuanya tidak tepat dan setiap saat gue merasa gue tidak nyaman. Semakin kesini bukannya semakin kuat, tetapi malah semakin cengeng.

Rasanya ingin menyimpan semuanya sendiri saja kalau sudah begini. Percuma bercerita, toh tak ada bedanya. Gue tetap merasa sedih. Atau mungkin malah bertambah sedih?

Lelah memasang senyum, ketika dalam hati rasanya ingin menangis. Jujur, gue lelah. Rasanya gue sudah tidak percaya kalian lagi.